Dari sayuran, uang tunai, manusia, hingga jenazah, sebuah kapal penumpang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di timur Indonesia.
Siang yang sangat Terik hari ini, enggan saya beranjak dari kursi di kantor. Perlahan terdengar ketukan kecil di pintu, dan sesaat kemudian muncul seraut wajah yang lama tak saya jumpai. Tersenyum dia menyapa, “Hello, Miss, may I come in?” Tanpa menunggu jawaban saya, dia segera masuk dan menyalami saya yang masih terkaget dan hanya membalas salamnya. “Hai, Jojo! long time no see…!” jawab saya. Yah, Jojo adalah salah satu siswa di kelas saya yang sudah setahun ini melaksanakan magang di atas kapal. Kali ini dia datang tanpa membawa buku dan pena, namun dia datang dengan membawa cerita.
Jojo mengisahkan banyak hal tentang pengalamannya berlayar di kapal. Dia berlayar di kapal penumpang yang melayari Indonesia bagian timur. Pelabuhan pelabuhan kecil di sana selama ini belum pernah sama sekali dia singgahi. Indonesia yang dia singgahi sejauh ini adalah ujung timur Pulau Jawa, itupun hanya di saat libur lebaran tiba. Neneknya tinggal di Banyuwangi, kota paling timur Pulau Jawa. Perjalanannya selalu menggunakan kereta api atau mobil, tak pernah naik kapal sama sekali. Dan kini, dia kembali dari magang dengan seribu kisah tentang pulau-pulau dari tanah seberang.
Salah satu hal yang menarik dari kisahnya adalah bahwa kapal penumpang yang dia naiki rupanya juga berfungsi sebagai pengangkut komoditas pertanian warga. Kapal itu sudah berumur 20 tahunan namun masih bagus kondisinya. Dia menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di kawasan timur seperti Makassar, Parepare, Balikpapan, Tarakan, Nunukan, Maumere, Larantuka, dan Kupang. Rute itu ditempuh dalam kurun waktu sekitar 2 minggu, lantas kembali lagi ke Makassar lewat pelabuhan yang sama. Saat kapal berlabuh di Parepare, biasanya komoditas pertanian yang dibawa adalah bawang merah dan bawang putih, kentang, wortel, dan cabai. Ternyata Parepare dianugrahi tanah yang subur, sehingga banyak sayuran tumbuh dengan baik di sana. Komoditas itu biasanya dibawa ke Tarakan yang mungkin tanahnya tak memiliki kesuburan yang sama sebagaimana Parepare.
Dari sini kami menyadari bahwa kapal penumpang itu tak hanya mempertemukan keluarga atau kerabat yang tinggal berjauhan di pulau yang berbeda, namun juga menjadi wahana yang menjaga aliran pasokan kebutuhan barang dan bahan pangan antar wilayah yang bisa diandalkan.
Sarana Angkut Uang Cash
Mungkin bagi kita yang telah bertahun-tahun tinggal di Pulau Jawa, kita tak pernah berpikir akan bisa kehabisan stok uang tunai, sebab dimana-mana terdapat ATM atau bank yang bisa diakses setiap kita butuhkan. Namun pernahkah kita berpikir, bagaimana bila di sebuah pulau terluar Indonesia kehabisan uang cash? Bagaimana uangnya diantarkan? Ternyata uang cash itu diantarkan oleh kapal, salah satunya adalah kapal penumpang tempat Jojo magang! Kapal penumpang itu rupanya menjadi urat nadi yang menjaga denyut kehidupan masyarakat di sana. Mereka menggantungkan asa, kehidupan dan uang tunai pada operasional kapal.
Barangkali tak banyak dari kita yang mengetahui bahwa kapal penumpang juga menjadi pengangantar uang antar pulau. Terkadang dalam sebulan uang yang dibawa dalam jumlah besar diangkut dari pelabuhan dengan pengawalan ketat aparat bersenjata lengkap, uang itu ditempatkan dalam ruang khusus di kapal dan dijaga ketat.
Sesampainya kapal di Larantuka, terkadang Jojo menyaksikan adanya praktek perdagangan dengan jalan barter antar warga. Pemandangan yang tak biasa buat Jojo yang selama hidupnya berada di Pulau Jawa, namun hal lumrah ini bisa dia saksikan langsung di Larantuka, meski dia tau bahwa lama kelamaan praktek ini makin jarang dia temui. Hal ini mencerminkan kondisi ekonomi lokal pedesaan yang mungkin belum sepenuhnya terintegrasi dengan system perdagangan modern dan perbankan.
Mengangkut Jenazah
Salah satu hal lainnya yang juga menyentuh kita adalah saat Jojo menyampaikan bahwa pernah beberapa kali kapal itu dipakai untuk membawa jenazah warga yang meninggal di pulau lain. Pengangkutan jenazah tak mungkin dilakukan lewat udara, karena tak ada bandara disana, kalaupun ada, pasti mahal juga biayanya. Maka, jalan paling memungkinkan adalah membawa jenazah dengan kapal. “Beberapa kali kami mengangkut jenazah dari Kupang, Miss. Meski di kapal kami tak ada fasilitas kamar khusus jenazah yang berpendingin, namun pengangkutan jenazah tetap dilakukan karena kebutuhan keluarganya yang ingin memakamkan jenazah kerabatnya di Larantuka atau Maumere,” kata Jojo. Perjalanan itu katanya menghabiskan waktu kurang lebih 7-8 jam dari Kupang.
Kapal penumpang tak hanya sekedar mengantar mereka yang masih hidup, namun juga mengantar yang sudah wafat ke keluarganya. Pengantaran jenazah ini tak hanya kita pandang sebagai pengantaran biasa, namun juga sebuah bentuk pengantaran rasa cinta dan hormat warga pada tradisi lokal yang kental, di mana masyarakat ingin menguburkan orang yang mereka cintai di tempat asalnya meski seberapapun jauh jarak memisahkan mereka.
Program Tol Laut yang dicanangkan oleh pemerintah, dimana kapal-kapal penumpang milik negara dijadikan salah satu solusi untuk membuka akses transportasi dan perekonomian di kawasan-kawasan terluar Indonesia sangat berguna untuk memperkuat konektivitas kawasan tersebut. Kapal-kapal selalu penuh dengan penumpang dan arus barang terutama di hari libur. Namun tetap saja, di hari-hari besar keagamaan seperti saat libur lebaran, jumlah kapal ini kerapkali tak mencukupi untuk mengakomodir arus mudik masyarakat. Keterbatasan ini yang juga dirasakan oleh Jojo. Pernah katanya, ada beberapa warga yang sangat marah dan bahkan beradu mulut dan nyaris berkelahi karena tak terangkut oleh kapal. Kapal yang sudah berusia 20-an tahun itu, meskipun masih layak berlayar, namun tetap saja perlu untuk diremajakan lagi dan peningkatan armada kapal menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.
Pengalaman Berharga Bagi Taruna
Rutinitas Jojo selama setahun di kapal penumpang membuatnya makin membuatnya paham, mengapa dia harus menggembleng diri lahir dan batin untuk menjadi seorang taruna pelayaran. Kehidupan di kapal menuntut ketahanan fisik dan mental saat bekerja, selain itu dia harus tetap menjaga ritme kerja agar tak mudah kolaps saat tiba-tiba harus bekerja lembur hingga larut malam di saat tertentu. Dia membantu pengecekan mesin dan banyak belajar dari perwira atau kru kapal lainnya. Jalinan hubungan harus dijaga agar selalu kompak dan harmonis selama di kapal.
Kapalnya nyaris tak pernah berhenti selain di saat sandar di pelabuhan, setiap hari beroperasi nyaris tanpa jeda. Namun tetap dia mensyukuri apa yang telah dia dapatkan di kapal. Pengalaman selama 12 bulan itu membuatnya belajar banyak hal, mulai dari mengelola logistik kapal, menjaga keseimbangan tugas teknis, membersihkan mesin atau bagian-bagian kapal, maintenance alat-alat keselamatan, dan sebagainya, hingga bagaimana bersikap ramah pada penumpang meskipun dia tengah lelah.
Setiap persinggahan kapal di pelabuhan selalu membawa cerita yang unik dan selalu berbeda. Keterbataasan infrastruktur di beberapa wilayah timur Indonesia, pengalaman interaksi dengan banyak penumpang dan awak kapal, dan semua kejadian yang dia lihat lainnya, menjadi sebuah jalinan cerita yang memperkaya pengalaman batinnya.
Lewat penuturan Jojo, kini saya mengerti, bahwa sebuah kapal yang bagi kita tampak hanya membawa penumpang, namun bagi banyak masyarakat yang tinggalnya di pulau-pulau terpencil yang tinggal berjauhan dengan keluarga atau kerabatnya, kapal memiliki arti lebih dari itu. Kapal itu membawa kehidupan dan harapan.
––––––––––––––––––
Tulisan ini merupakan karya yang diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Transportasi 2026 yang ditulis oleh Tristanti dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP).
––––––––––––––––––
